Pendapat Ulama’ Mengenai Kewajiban Mengangkat Seorang Khalifah

Kini kepada Anda wahai saudaraku sesama muslim di segala penjuru bumi Allah, akan kami sampaikan sebagian pendapat para ulama yang terkemuka baik ulama dahulu maupun sekarang, mengenai wajibnya mengangkat seorang khalifah muslim yang berkewajiban memegang urusan kaum muslimin.

1. Imam Al Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamush Shultaniyah halaman 5 menyatakan :

“Mengadakan akad Imamah (Khilafah) bagi orang yang melaksanakannya di tengah-tengah umat, adalah wajib berdasarkan ijma’.”

2. Imam Al Mawardi dalam Al Ahkamush Shultaniyah juga menyatakan :

Adalah wajib mengangkat seorang Imam (Khalifah), yang akan menjadi penguasa urusan dunia dan pemimpin umat, agar agama dapat terjaga dan kekuasaannya berjalan menurut hukum-hukum agama.

3. Abu Ya’la Al Farraa’ dalam Al Ahkamush Shulthaniyah halaman 19 berkata :

Mengangkat seorang Imam adalah wajib. Imam Ahmad –radliyallaahu anhu– menurut riwayat Muhammad bin Aauf bin Sufyan Al Hamshi, telah berkata,’Adalah fitnah (musibah), jika tidak ada seorang Imam yang mengatur urusan rakyat.’

4. Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authhar jilid 8/halaman 265 mengatakan :

“Menurut golongan Syi’ah, mayoritas Mu’tazilah dan Asy’ariyah, (Khilafah) adalah wajib menurut syara’.”

5. Ibnu Taimiyah dalam As Siyasah Asy Syar’iyah halaman 161 berkata :

Maka adalah wajib untuk menjadikan kepemimpinan (Khilafah) sebagai (bagian dari) agama dan sarana bertaqarrub kepada Allah. Sebab bertaqarrub kepada-Nya dalam kepemimpinan itu, yaitu dengan mentaati Allah dan mentaati Rasul-Nya, termasuk dalam taqarrub yang paling utama. Yang merusak keadaan banyak orang dalam kepemimpinan itu, tak lain adalah mencari kekuasaan dan harta semata  di dalamnya.

Selanjutnya Ibnu Taimiyah berkata pula dalam kitab Majmu’ul Fatawa  jilid 28/halaman 62 :

Setiap anak Adam tak akan sempurna kemaslahatannya di dunia dan akhirat, kecuali dengan berkumpul, tolong-menolong, dan bantu-membantu, yakni bantu-membantu dalam memperoleh kemanfaatan dan menolak kemudlaratan. Oleh karenanya, dikatakan bahwa manusia secara tabi’at adalah makhluk sosial. Maka jika mereka berkumpul, pasti mereka mempunyai urusan-urusan yang harus mereka kerjakan –untuk memperoleh kemaslahatan– dan urusan-urusan yang harus mereka hindari, karena di dalamnya terkandung kemafsadatan. Mereka harus mentaati seseorang yang mengeluarkan perintah untuk mendapatkan kemanfaatan itu dan yang melarang dari kemafsadatan itu. Maka seluruh anak Adam harus mempunyai orang yang berhak memerintah dan melarang.

Ibnu Taimiyah dalam As Siyasah Asy Syar’iyah halaman 64 berkata :

Karena itu, Nabi SAW memerintahan umatnya untuk mengangkat para penguasa (wulatul umur) atas mereka, dan memerintahan para penguasa untuk menyampaikan amanat-amanat kepada yang berhak, dan jika mereka menetapkan hukum di antara manusia mereka harus menetapkan dengan adil. Dan Allah memerintahkan umatnya untuk mentaati para penguasa itu dalam ketaatan kepada Allah. Dalam Sunan Abu Dawud, dari Abu Sa’id bahwa Nabi SAW telah berkata :

“Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan, maka hendaklah salah seorang dari mereka menjadi pemimpinnya.”

Dalam Sunan Abu Dawud juga terdapat riwayat yang semisal itu dari Abu Hurairah. Dalam Musnad Imam Ahmad dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bersabda :

“Tidak halal bagi tiga orang yang ada di suatu tempat kosong di muka bumi, kecuali salah seorangnya menjadi pemimpinnya.”

Jika Allah telah mewajibkan untuk mengangkat seorang pemimpin dalam kelompok yang kecil dan terbatas, maka ini berarti isyarat mengenai kewajiban mengangkat pemimpin untuk kelompok yang lebih besar dari tiga orang. Maka dari itu, kekuasaan (al wilayah) bagi orang yang mengambilnya karena menjalankan agama dan menjadikannya sarana bertaqarrub kepada Allah, serta di dalamnya dia melaksanakan yang wajib sesuai kemampuannya, adalah termasuk amal shalih yang paling utama. Bahkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda :

“Sesungguhnya makhluk yang paling dicintai Allah adalah seorang Imam (Khalifah) yang adil. Dan makhluk yang paling dibenci Allah adalah Imam (Khalifah) yang zhalim.”

6. Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ul Fatawa jilid 28/halaman 297 meriwayatkan perkataan Ali bin Abi Thalib RA, yang berkata :

Manusia harus mempunyai pemimpin, entah dia baik atau buruk. Lalu ada yang berkata kepada Ali,’Wahai Amirul Mukminin, kalau yang baik kami sudah mengetahuinya, lalu bagaimana gerangan keadaan pemimpin yaang zhalim itu ?’ Ali menjawab,’Dia menjalankan hudud, mengamankan jalan-jalan, berjihad melawan musuh, dan membagikan fai’.’

Adalah hal yang sangat aneh dan janggal, bahwa kita saat ini tidak hidup di bawah penguasa (Khalifah) yang baik maupun yang zhalim, sebab hudud telah diterlantarkaan, jalan-jalan terputus, jihad di negeri-negeri Islam dilalaikan. Sungguh celaka bagi orang yang menyebabkan lahirnya keadaan ini !

7. Dalam Majmu’ul Fatawa juz 28/halaman 390 Ibnu Taimiyah berkata :

Wajib diketahui bahwa kekuasaan untuk mengatur urusan manusia (wilayatu amrinnaas) termasuk sebesar-besar kewajiban agama. Bahkan urusan agama dan dunia tak akan tegak tanpanya. Sebab tidak akan sempurna kemaslahatan manusia kecuali dengan berinteraksi, karena adanya kebutuhan sebagian mereka dengan sebagian lainnya. Dan mereka tak boleh tidak harus mempunyai seorang pemimpin pada saat berinteraksi, hingga Nabi SAW bersabda :

“Jika keluar tiga orang dalam satu perjalanan, maka hendaklah salah seorang dari mereka menjadi pemimpinnya.” (HR. Abu Dawud dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah).

Imam Ahmad dalam Al Musnad meriwayatkan dari Abdullah bin Umar bahwa Nabi SAW bersabda:

“Tidak halal bagi tiga orang yang ada di suatu tempat kosong di muka bumi, kecuali salah seorangnya menjadi pemimpinnya.”

Dengan demikian, Nabi telah mewajibkan mengangkat seorang pemimpin dalam kelompok yang kecil dalam satu perjalanan. Ini merupakan isya-rat untuk mengangkat seorang pemimpin bagi seluruh kelompok yang ada. Sebab, Allah SWT telah mewajibkan amar ma’ruf nahi mungkar, sementara hal ini tidak akan sempurna terlaksana kecuali dengan kekuatan (quwwah) dan kepemimpinan (imarah). Demikian pula seluruh apa yang diwajibkan Allah seperti jihad, menegakkan keadilan, pelaksanaan haji dan jum’at, Idul Fitri dan Idul Adha, menolong orang yang dizhalimi, melaksanakan hudud. Semua ini tidak akan sempurna kecuali dengan kekuatan (quwwah) dan kepemimpinan (imarah). Karena itu, dikatakanlah bahwa ,”Sesungguhnya  kekuasaan itu adalah bayang-bayang Allah di bumi.” Dan dikatakan pula bahwa,”Enam puluh tahun di bawah pimpinan Khalifah yang zhalim, lebih baik daripada satu malam tanpa kekuasaan (Khilafah).” Pengalaman telah membuktikan hal ini. Karenanya, ulama salaf –seperti Fudlail bin Iyad dan Ahmad bin Hanbal dan yang lainnya–  mengatakan,”Kalau sekiranya kami mempunyai doa yang mustajab, niscaya kami akan berdoa dengannya untuk Khalifah (As Sulthan).”

8. Ibnu  Khaldun dalam Al Muqaddimah halaman 167 berkata :

Sesungguhnya mengangkat Imam (Khalifah) adalah wajib, yang telah diketahui kewajibannya dalam syara’ berdasarkan Ijma’ Shahabat dan Tabi’in (pengikut-pengikut) mereka. Para shahabat Rasulullah SAW ketika beliau wafat, segera membaiat Abu Bakar RA dan menyerahkan pertimbangan (urusan-urusan mereka) kepadanya. Hal ini terjadi pula pada setiap masa setelah Abu Bakar, sehingga tidak terjadi kekacauan pada manusia pada satu masa di antara berbagai masa. Ini telah membuktikan adanya ijma’ yang menunjukkan wajibnya mengangkat seorang Imam (Khalifah).

9. Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal, juz 4/halaman 87 mengatakan:

Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji’ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah) dan bahwasanya umat Islam wajib mentaati seorang Imam yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah di tengah mereka, dan memimpin mereka dengan hukum-hukum syari’at yang dibawa oleh Rasulullah. Kecuali An Najdat dari golongan Khawarij, mereka berkata,”Kefardluan Imamah tidak mengikat manusia. Mereka hanya berkewajiban untuk menunaikan hak dan kewajiban di antara mereka.”

10. Imam Al Qurthubi dalam kitab tafsirnya juz 1/halaman 264 telah berkata :

“Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat Khalifah) di antara umat dan imam-imam madzhab. Kecuali pendapat yang diriwayatkan dari Al ‘Asham –yang tuli (‘asham) terhadap syari’ah– dan begitu pula siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan madzhabnya.”

11. Al Haitsami dalam Ash Shawa’iqul Muhriqah halaman 17 berkata :

“Ketahuilah pula bahwa para shahabat –ridlwanullah ‘alaihim– telah berijma’ (bersepakat) bahwa mengangkat Imam setelah berakhirnya jaman nubuwwah (kenabian) adalah wajib. Bahkan mereka menjadikannya sebagai kewajiban terpenting tatkala mereka menyibukkan diri dengan kewajiban tersebut dengan menunda pengubuan jenazah Rasulullah SAW.”

12. An Nawawi dalam Syarah Muslim juz 12/halaman 205 berkata :

“Mereka (para imam madzhab) telah bersepakat bahwasanya wajib atas kaum muslimin mengangkat seorang Khalifah.”13. Al Jurjani berkata:

“Mengangkat Imam (Khalifah) termasuk kemaslahatan terpenting kaum muslimin, dan tujuan agama yang terbesar.”

14. Imam Al Haramain dalam kitabnya Ghiyatsul Umam berkata :

“Telah terdapat ijma’ tentang kewajiban mengangkat Khalifah yang mengatur (kehidupan) manusia dengan Islam.”

15. Al Iji dalam Al Mawaqif dan pensyarahnya Al Jurjani berkata :

Sesungguhnya telah mutawatir ijma’ kaum muslimin  pada generasi pertama setelah wafatnya Nabi SAW, bahwasanya jaman tak boleh kosong dari seorang Imam (Khalifah), sehingga Abu Bakar  RA dalam khutbahnya yang termasyhur saat wafatnya Rasulullah SAW berkata,”Perhatikanlah, sesungguhnya Muhammad telah mati dan agama ini tidak boleh tidak harus ada yang menegakkannya.” Maka seluruh shahabat segera menerima seruannya dan meninggalkan hal yang sangat penting karenanya, yaitu menguburkan jenazah Rasulullah SAW. Kaum  muslimin tetap menjalankan kewajiban ini pada setiap masa sampai masa kita sekarang ini, yaitu kewajiban mengangkat seorang Imam (Khalifah) yang ditaati untuk setiap masa.

16. Dr. Dliya’uddin Ar Rais dalam kitabnya Al Islam Wal Khilafah halaman 99 berkata :

Jadi Khilafah merupakan kedudukan agama terpenting dan selalu diperhatikan oleh kaum mslimin. Syari’ah Islam telah menetapkan bahwa mendirikan Khilafah adalah satu kewajiban mendasar di antara kewajiban-kewajiban agama. Bahkan dia adalah kewajiban terbesar (al fardlul a’zham) sebab padanyalah bertumpu/bergantung pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya.

17.  Dr. Dliya’uddin Ar Rais berkata pula dalam kitabnya tersebut halaman 341 :

Sesungguhnya ulama di kalangan kaum muslimin telah berijma’ sebagaimana kita ketahui sebelumnya, bahwa Khilafah atau Imamah adalah satu kewajiban mendasar  di antara kewajiban-kewajban agama. Bahkan dia adalah kewajiban terbesar (al fardlul a’zham) sebab padanyalah bertumpu/bergantung pelaksanaan seluruh kewajiban lainnya dan perwujudan kemaslahatan-kemaslahatan umum bagi kaum muslimin.

Karena itu, mereka menamakan kedudukan ini dengan Al Imamah Al ‘Uzhma (Keimaman Agung) sebagai bandingan dengan Imamatush Sholat (Keimaman Sholat) yang disebut dengan Al Imamah Ash Shugra.

Ini adalah pendapat Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang merupakan mayoritas terbesar kaum muslimin. Jadi pendapat ini adalah pendapat para mujtahid besar, yaitu Imam yang empat ( Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafi’i, dan Ahmad) dan para ulama seperti Al Mawardi, Al Juwaini, Al Ghazali, Ar Razi, At Taftazani, Ibnu Khaldun dan lain-lain. Mereka adalah para imam yang kaum muslimin mengambil pemahaman agama dari mereka. Kita telah mengetahui dalil-dalil dan bukti-buti yang mereka jadikan sandaran dalam hal wajibnya Khilafah.

Adapun golongan Syi’ah, mereka menilai Imamah lebih dari itu. Mereka memandang bahwa Imamah bukan sekedar wajib bahkan merupakan rukun agama dan dasar keimanan, yang keimanan tidak dianggap sah kecuali dengan keberadaan Imamah. Dengan demikian, Khilafah menurut kaum muslimin ada yang menganggapnya fardlu dan ada pula yang menganggapnya sebagai rukun aqidah. Inilah hakikat ilmiah keagamaan yang tak diperbantahkan lagi.

18. Abdurrahman Abdul Khaliq dalam kitabnya Asy Syura halaman 26 mengatakan :

Maka Imamah Umum (Al Imamah Aammah) atau Khilafah, adalah pihak yang dibebani tugas untuk menegakkan Syari’at Allah Azza wa Jalla dan memutuskan hukum dengan kitab-Nya (Al Qur’an), menjalankan urusan kaum muslimin, memperbaiki keadaan mereka, dan melancarkan jihad terhadap musuh mereka. Tidak ada perbedaan pendapat lagi di antara kaum muslimin mengenai kewajiban Khilafah dan keharusan keberadaannya. Dan mereka semua berdosa jika mereka lalai untuk mendirikannya.

19. Abu Ya’la dalam Al Ahkam Ash Shulthaniyah halaman 19 berkata :

“Dia (Khilafah) adalah fardlu kifayah, yang dipikulkan kepada 2 (dua) golongan di antara manusia; yang pertama adalah para ahlul ijtihad (mujtahid) hingga mereka berhasil memilih (seseorang sebagai Khalifah). Dan yang kedua, adalah orang-orang yang memenuhi syarat Imamah hingga salah satu dari mereka diangkat sebagai Imam.”

20. Abdul Qadir Audah dalam kitabnya Al Islam Wa Audla’una As Siyasiyah halaman 124 berkata:

Khilafah dapat dianggap sebagai satu kewajiban di antara fardlu-fardlu kifayah, seperti halnya jihad dan peradilan (qadla‘). Jika kewajiban ini telah dilaksanakan oleh orang yang memenuhi syarat, maka gugurlah kewajiban ini dari seluruh kaum muslimin. Tapi jika tak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka seluruh kaum muslimin berdosa hingga orang yang memenuhi syarat dapat melaksanakan kewajiban Khilafah ini.

Sebagian ulama berpendapat bahwa dosa hanya menimpa dua golongan saja dari kalangan kaum muslimin, yang pertama adalah Ahlur Ra’yi (para ulama dan intelektual) hingga mereka menganghkat salah seorang dari kaum muslimin sebagai khalifah. Dan yang kedua, adalah orang-orang yang telah memenuhi syarat sebagai Khalifah hingga seorang dari mereka terpilih sebagai Khalifah.

Pendapat yang benar adalah bahwa dosa menimpa seluruh kaum muslimin, sebab seluruh kaum muslimin telah menjadi sasaran khithab (seruan) dari syara’ dan mereka berkewajiban untuk menegakkannya… Jika pemilihan (khalifah) ini diserahkan kepada satu golongan dari umat, maka kewajiban seluruh umat adalah mendorong golongan tersebut untuk menunaikan kewajibannya. Jika tidak, maka umat turut memikul dosa…

21. Sulaiman Ad Diji dalam kitabnya Al Imamah Al ‘Uzhma halaman 75 mengatakan :

Adalah benar, bahwa tak ada keraguan lagi tentang kewajiban tersebut (mengangkat Khalifah) atas dua golongan, yang lebih berat daripada selain dua golongan tersebut. Akan tetapi bila kedua golo-

ngan tersebut tidak melaksanakan  kewajiban ini, maka dosanya menimpa semua orang. Inilah pengertian dari hukum mendirikan Khilafah yang besifat fardlu kifayah. Yaitu bila sebagian kaum muslimin sudah melaksanakannya,  maka kewajiban tersebut gugur dari lainnya. Tapi bila tak ada seorang pun yang melaksanakannya, maka semuanya berdosa, seperti halnya kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, jihad, menuntut ilmu, dan sebagainya…

Saat ini kedua golongan tersebut telah melalaikan pelaksanaan kewajiban ini, atau telah mengikuti apa yang dikehendaki hawa nafsu mereka. Maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain atas setiap individu muslim –masing-masing sesuai kemampuannya– untuk berjuang menegakkan Khilafah Islamiyah yang menyeluruh, yang akan mempersatukan kaum muslimin di bawah bendera tauhid yang benar dan akan mengembalikan kehebatan dan kepemimpinan bagi agama ini,  serta mengembalikan negara bagi kaum muslimin mereka dan posisi mereka yang telah hilang akibat kelalaian mereka dalam pelaksanaan kewajiban yang agung ini. Allah jua tempat memohon.

22. Dr. Mahmud Al Khalidi dalam kitabnya Qawaid Nizham Al Hukum fil Islam halaman 248 mengatakan :

Tidak ada kehinaan yang menimpa kaum muslimin dan menjadikan mereka hidup di pinggiran dunia dan mengekor berbagai umat serta terbelakang dalam sejarah, kecuali karena kelalaian mereka dalam berjuang untuk mendirikan Khilafah dan tidak segeranya mereka untuk mengangkat seorang Khalifah bagi mereka. Ini semata-mata karena ada kewajiban berpegang dengan hukum syara’ yang telah menjadi ma’lumun minad dini bidl dlarurah (telah diketahui secara pasti sebagai bagian dari ajaran agama Islam) seperti halnya sholat, shaum, dan haji. Maka lalai dari tugas melanjutkan kehidupan Islam adalah satu kemaksiatan yang terbesar. Maka dari itu, mengangkat Khalifah bagi kaum muslimin adalah fardlu dan merupakan keharusan demi untuk menerapkan hukum-hukum syara’ atas kaum muslimin dan mengemban dakwah Islam ke seluruh pelosok dunia.

Saya kira nukilan-nukilan pendapat ini cukup kiranya bagi orang yang mempunyai hati, atau orang yang mempunyai pendengaran, sedang dia adalah orang yang menyaksikan segala sesuatu.

Tagged with: , , , ,
Posted in Menegakan Kembali Negara Khilafah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: